Arif Karyadi (no 3 dari kiri) di seminar Nasional Bisnis Peternakan (majalahinfovet.com)

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Pinsar Indonesia selalu dipercaya sebagai salah satu narasumber dalam Seminar Nasional Bisnis Peternakan yang diselenggarakan oleh ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia). Tahun ini seminar berlangsung Rabu 23 November 2016 di Menara 165 Jakarta. Wakil sekjen Pinsar Indonesia Arief Karyadi tampil mewakili Pinsar menyampaikan materi mengenai kinerja pasar unggas tahun 2016 dan prediksi tahun 2017.

Seminar dihadiri kalangan usaha peternakan dari hulu hingga hilir

Selain Pinsar, pembicara yang tampil adalah Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) Krissantono, Pengurus GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) Hudian Pramudyasunu, Ketua Umum ASOHI Irawati Fari, Ketua Umum PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) Teguh Boediyana dan Ketua Umum AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia) Sauland Sinaga. Hadir pula salah satu pimpinan Bank Indonesia Dr. IGP Wira Kusuma, yang menyampaikan materi mengenai potret ekonomi nasional tahun 2016 dan prediksi tahun 2017.

Dalam kesempatan ini Arif antara lain menyampaikan bahwa program afkir dini PS (Parent Stock)  sejak akhir tahun 2015 memberikan dampak meningkatnya harga live bird di tingkat peternak pada awal tahun 2016. Namun demikian dengan adanya pembatalan afkir dini akibat putusan KPPU menyebabkan harga live bird kembali memburuk dan terus berlangsung hingga saat ini.
“Yang perlu kita catat, harga live bird sangat volatile, sementara harga di tingkat konsumen harga ayam relatif tetap di kisaran Rp. 33.000. Ini artinya ada situasi yang kurang baik di tingkat distribusi unggas” ujarnya.

Arif juga mengingatkan kembali bahwa perunggasan nasional adalah usaha yang tumbuh pesat dan berkontribusi sangat besar dalam penyediaan protein hewani dengan perhatian yang sangat minim.

“Kita melihat adanya subsidi pupuk, tapi tidak pernah ada program pemerintah untuk subsidi pakan atau bibit ataupun sarana yang lainnya. Namun kita lihat betapa banyak peran unggas dalam ekonomi nasional maupun dalam penyediaan sumber protein yang paling murah.

Pada akhir sesi presentasi Arif menyampaikan kesimpulan tentang situasi pasar unggas sebagai berikut:

  • Peternak Rakyat harus memiliki institusi bisnis yang kuat untuk menghadapi persaingan
  • Diperlukan penegakan aturan dan penciptaan iklim usaha yang berkeadilan.
  • Pemutakhiran data perunggasan nasional adalah sebuah keharusan.
  • Diperlukan upaya pembenahan jalur tataniaga dan distribusi unggas nasional.
  • Pemerintah harus “diajak” untuk benar-benar  peduli terhadap kelangsungan hidup bisnis perunggasan nasional.***