Rachmat Pambudy

Rachmat Pambudy

Pergantian pemerintahan selalu memberi harapan baru. Presiden, menteri, dirjen dan pejabat baru selalu diharapkan bisa bekerja lebih baik. Tidak terkecuali para pejabat pemerintah yang bertanggung jawab mengendalikan kebijakan perunggasan. Kehadiran dan keputusan mereka kita nantikan, apalagi ketika harga telur dan ayam hidup sangat rendah. Bahkan sejak dua tahun terakhir harganya hampir selalu di bawah biaya produksi. Karena itu, hasil kerja dan tindakan nyata para pejabat yang paling berwenang ditunggu untuk mengatasi kerugian para peternak. Sudah saatnya harga ayam dan telur tidak lagi diserahkan pada mekanisme perang pasar bebas yang bisa saling mematikan usaha mereka.

Daging dan telur ayam ras merupakan komoditas strategis dalam ketahanan pangan (food security), ketahanan ekonomi (economic security) dan ketahanan nasional (national security). Daging dan telur ayam harus ditempatkan sebagai komponen penting selain beras. Perungasan bisa jadi penarik produksi tanaman (jagung, padi, kedelai, umbi umbian dan limbah perkebunan) serta pendorong usaha perdagangan, industri pangan, kuliner, dan pariwisata. Telur ayam memiliki nilai strategis dalam rantai pangan dan gizi karena memiliki asam amino esensial terlengkap dibanding protein hewani lain. Jika dikonsumsi ibu hamil dan anak, telur bisa mencerdaskan manusia Indonesia. Harganya relatif murah dan mudah disajikan, karena itu telur dan daging ayam pernah masuk sembilan bahan pokok masyarakat yang tercantum dalam SK Menperindag 115/MPP/Kep/2/1998.

Dalam sejarah pertanian pasca kemerdekaan, agribisnis ayam ras merupakan salah satu contoh prestasi karya besar pemerintah, petani, peternak, pengusaha peternakan dan obat hewan yang dibanggakan. Tahun 60an ayam ras berkembang melalui usaha keluarga (backyard poultry farming). Tahun 80an, 25 tahun kemudian, perunggasan nasional berhasil melakukan pendalaman struktur agribisnis yang kokoh. Sekarang, agribisnis perunggasan telah jadi contoh sistem dan usaha agribisnis modern yang penting bagi ekonomi Indonesia.

Akhir tahun 1970an, ayam ras pedaging belum tercatat dalam statistik peternakan. Tahun 1995 produksinya sekitar 500 ribu ton karkas dan hampir 400 ribu ton telur ayam ras konsumsi. Sebelum krisis 1998, produksi ayam hidup menembus satu milyar ekor. Pada sub sistem agribisnis hilir telah berkembang industri pengolahan produk siap masak (ready to cook), produk siap konsumsi (ready to eat), perdagangan produk ayam dan turunannya di pasar domestik dan ekspor. Agribisnis ayam ras telah menjadi primadona dan model pengembangan agribisnis Indonesia.

Indonesia lebih sukses swasembada pangan asal ternak ayam ras dibanding beras karena mampu memenuhi kebutuhan ayam dan telur domestik. Setelah berhasil memenuhi kebutuhan domestiknya, agribisnis perunggasan harus bisa masuk ke pasar ekspor. Saat ini Indonesia, melalui PT Japfa Comfeed, telah mengekspor telur tetas ke Myanmar dan Vietnam. Diharapkan produksi obat hewan, ayam dan produk turunannya juga bisa diekspor oleh perusahaan lainnya.

Di lihat dari sisi penawaran (supply side) dan sisi permintaan (demand side), agribisnis perunggasan memiliki prospek cerah dalam memasuki pasar internasional. Dari sisi penawaran, kapasitas produksinya belum mencapai levelling-off. Hal ini antara lain ditunjukkan produksi DOC yang berlebih (over capacity). Dengan demikian ruang geraknya masih terbuka lebar. Saat memasuki pasar ekspor (memperluas pasar) maka skala ekonomi (economics of size) agribisnis perunggasan nasional dapat diperoleh sedemikian rupa sehingga efisiensi tertinggi bisa tercapai.

Membangun agribisnis ayam ras berarti mengembangkan sub sistem budidaya, agroindustri, jasa penunjang secara sistematis, utuh, terintegrasi, bersamaan dan saling menguntungkan diantara sub sistem tersebut. Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah untuk menjamin agar setiap sub sistem bisa saling mendukung dalam suasana yang harmonis. Model dan kerangka pembangunan peternakan ayam ini menjadi salah satu keunggulan sekaligus kekuatan daya saing komoditi ayam ras dalam menghadapi persaingan regional dan global.

Saat ini suasana yang harmonis belum tercapai. Ketidak harmonisan ada di pihak peternak rakyat mandiri, sub sektor budidaya yang terpisah dari integrasi vertikal hulu dan hilir. Sub sektor peternak rakyat mandiri ini sering jadi korban. Keuntungannya terkecil sementara resiko rugi sering terjadi. Mereka menjadi penampung produksi DOC dan pakan perusahaan yang sering berlebih dari perkiraan permintaan. Pada saat panen, harga ayam hidupnya (live bird), seringkali di bawah harga pokok produksi (HPP). Jika kita amati, kejadian ini terus berulang sejak awal tahun 80an hingga saat ini. Ada saat saat tertentu peternak budidaya mandiri ini ikut menikmati harga ayam yang tinggi namun pada saat harga dianggap tertalu tinggi, pemerintah menekan dengan berbagai cara.

Ketika pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kala terbentuk ada harapan baru mengatasi gejolak harga telur dan ayam ras yang merugikan peternak rakyat mandiri. Menteri baru dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan baru telah memberi komitmen penuh dalam menyelesaikan persoalan ini. Setidaknya ada dua upaya mendasar, yaitu syarat keharusan dan syarat kecukupan yang telah dilakukan Menteri Pertanian dan Dirjen PKH.

Pertama, memenuhi syarat keharusan, yaitu menciptakan adanya saling kebersamaan diantara sub sektor agribisnis. Kedua memenuhi syarat kecukupan, yaitu membuat adanya peluang saling menguntungkan diantara sub sektor tersebut. Persoalan dan penangangan yang sistemastis, terintegrasi, holistik, dan dilakukan secara adil oleh Dirjen PKH, Profesor Muladno yang didukung Menteri Pertanian Dr. Amran Sulaiman telah memberi harapan baru. Peternak ayam rakyat mandiri yang bertahun tahun mengalami kerugian diharapkan bisa menikmati hak hidupnya dan bisa menikmati keuntungannya saat panen.

Tantangan Dan Masalah Yang Berpengharapan
Sampai saat ini, agribisnis ayam ras ini masih menghadapi kendala dan masalah mendasar yang menghambat daya saing, pertumbuhan dan kemajuan. Kendala dan masalah tersebut dari dalam negeri (internal, regional, nasional) dan luar negeri (eksternal, global). Kelebihan pasokan DOC jadi kendala internal laten, sehingga harga dan kualitasnya sulit dikendalikan. Akhir tahun 2014, terjadi kelebihan pasokan 10-15 juta DOC per minggu, karena kapasitas terpasang 55-60 juta DOC, sementara permintaan pasarnya 44-45 juta. Kelebihan pasokan menyebabkan harga turun drastis menjadi 500-1000 rupiah dari harga normal 3000-4000 rupiah per ekor. Harga DOC murah akan memicu peternak musiman berproduksi dan mengisi kandang kosong. Saat panen, ayam itu akan membanjiri pasar sehingga terjual di bawah harga produksi.

Masalah internal berikutnya, ketergantungan impor bibit Grand Parent Stock (GPS). Komponen jagung impor. Ketidak pastian kebijakan pemerintah terhadap nilai tukar rupiah, impor jagung, bahan baku pakan dan obat hewan menambah kompleksnya permasalahan internal agribisnis ayam. Sehingga jika ditilik lebih lanjut, para peternak rakyat mandiri menanggung kerugian di dua sisi, yaitu biaya input tinggi karena komponen impor pakan tinggi, dan over supply ayam hidup yang menyebabkan harga jual rendah.

Tak kalah penting dan mendesak adalah biaya produksi tinggi hambatan birokrasi pusat dan daerah; tingginya harga BBM dan listrik; kualitas dan kuantitas infrastruktur seperti jalan, jembatan, air bersih, pasar dan fasilitas pemasaran buruk; serta kredit untuk investasi modal kerja agribisnis perunggasan mahal bunganya dan sulit diakses.
Dari sisi global (eksternal), menghadapi ancaman dan tekanan ekskalasi persaingan global di hampir semua rantai nilai (value chains) terkait mulai dari obat obatan, feed aditive, bahan baku pakan, ayam hidup, daging ayam segar dan olahan, sampai makanan olahan berbasis daging ayam ras. Saat ini sedang terjadi ‘perang ayam’ global. Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Brazil, Cina, Vietnam dan Thailand secara bersamaan menggenjot produksi daging dan telur ayam ras mereka untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan domestik dan diekspor ke pasar global jika berlebih.

Persaingan global dan ‘perang ayam’ internasional berdampak makin kompetitif dan makin beratnya tekanan pasar dunia terhadap para pelaku dan pemangku kepentingan agribisnis perunggasan nasional, terutama peternak ayam rakyat, yang paling lemah posisi tawarnya. Ancaman masuknya ayam hidup utuh beku (frozen whole chicken) dari Brazil menggedor kuat pintu impor Indonesia. Sepintas harga produk unggas negara itu relatif murah. Adanya global poultry war dan chicken war menyebabkan Indonesia perlu bersatu merancang strategi dan kebijakan baru agar bisa mempertahankan pasar dalam negerinya, ikut dalam bermain dan menang dalam perang ayam global tersebut

Strategi Proteksi Dan Promosi
Dalam perang dingin dan perang proxy, maka peran pangan dan ketahanan pangan menjadi sangat penting. Pangan bisa menjadi senjata, food as weapon. Demikian juga dengan keberadaan perusahaan perunggasan Indonesia. Jika tidak hati hati dan tidak bersatu, maka agribisnis perunggasan Indonesia akan hancur oleh persaingan global antar perusahaan yang didukung negaranya masing masing. Ayam produksi perusahaan Indonesia yang paling kuat dan efisien sekalipun akan kalah oleh ayam beku dari Brazil atau sayap paha ayam dari Amerika Serikat karena harganya jauh di bawah biaya produksi karkas di indonesia dan ekspornya didukung penuh pemerintahnya.
`
Agribisnis ayam hanya bisa tumbuh di pasar domestik dan global bila dihadapkan pada persaingan yang adil (fair trade), bukan pada persaingan bebas yang tak terkendali, dan tidak adil (laisse fair, unfair and free competition). Persaingan memang menjadi suatu keniscayaan saat ini dan dimasa mendatang. Seluruh pelaku usaha harus mengantisipasi dan berusaha secara maksimal untuk memenangkan persaingan dengan meningkatkan terus-menerus efisiensi sosial, teknis dan ekonomis. Hal ini juga harus didukung oleh keberpihakan politik ekonomi pemerintah untuk membangun agribisnis ayam nasional yang kokoh dan berkesinambungan.

Dalam rangka mengefisienkan agribisnis ayam nasional seluruh stakeholder harus bergerak serentak dan terkoordinasi. Diperlukan peran besar pemerintah sebagai pusat pengendali utama, yang tegas, cerdas, jujur, adil, sehingga berwibawa untuk dapat menyelesaikan persaingan antara pengusaha kuat, besar dan terintegrasi dengan peternak rakyat guna melindungi (proteksi) kelangsungan agribisnis ayam nasional. Di sisi lain diperlukan juga dukungan (promosi) penuh pemerintah dalam penguatan peternak besar, menengah, dan peternakan kecil mandiri untuk meraih daya saing menghadapi persaingan global yang sering tidak adil.

Peternak rakyat mandiri di dorong untuk beroperasi dengan skala yang efisien dengan cara berkelompok dalam Sentra Perunggasan Rakyat (SPR) yang terintegrasi dengan pabrik pakan skala kecil dan juga pembibitan skala rakyat dan juga petani jagung, sehingga harga input dapat ditekan. BUMN keuangan, pangan, logistik dan perdagangan dilibatkan untuk membantu pembiayaan, pengadaan bahan baku pakan, membeli, menampung dan memperdagangkan hasil produksi. Guna meningkatkan nilai tambah ayam ras, maka di sisi hilir, SPR ini membangun dan atau bekerja sama dengan rumah potong ayam (RPA) mini modern, dan kelompok pedagang daging ayam di pasar tradisional. Dengan demikian rantai pasok dapat menjadi lebih pendek dan nilai tambah dapat terdistribusi dengan baik diantara pelaku sektor on farm dan hilir.

Produk akhir SPR ini disalurkan ke pasar tradisional melalui rantai segar (fresh chain) terkendali guna menjamin kesegaran, kehalalan, dan kesehatan daging ayam di tangan konsumen. Pemerintah pun perlu menekan laju impor produk unggas dan turunannya, guna memberikan kesempatan kepada peternak rakyat untuk mengokohkan integrasi yang terbentuk, hingga tercipta peningkatan daya saing yang setara dengan produk unggas impor. Demi kepentingan nasional dan rakyat banyak pemerintah harus lebih aktif melakukan diplomasi internasional untuk melindungi SPR, dan mendukung perusahaan perunggasan di pasar ekspor, yang sebenarnya hal ini sangat lazim dalam perdagangan internasional. Pemerintah harus lebih gigih berjuang dalam perjanjian bidang pertanian (Agreement on Agriculture) yang menguntungkan peternakan nasional dan rakyatnya.

Sedangkan pengusaha besar peternakan ayam terintegrasi perlu diberi tugas dan perlakuan khusus oleh pemerintah untuk memasok pada pasar premium (horeka) dan juga pasar ekspor dengan menggunakan rantai dingin (cold chain), karena skala produksi yang efisien (economic of scale), maka produk yang dihasilkan akan lebih memiliki daya saing untuk berkompetisi di pasar tersebut. Sebagai insentif, pemerintah mengupayakan pasokan jagung yang murah namun memenuhi standar produksi. Hal ini akan meningkatkan efisiensi produksi pakan dengan mengurangi penggunaan jagung impor (pengaruh kurs) dan turut menjamin pasar petani jagung. Perusahaan besar juga dibebaskan mengimpor jagung jika pasokan petani tidak mencukupi. Birokrasi yang menyulitkan dan rente obat hewan dan bahan baku pakan yang dihadapi pengusaha peternakan besar harus dihapus.

Penutup
Peluang berkembangnya agribisnis ayam ras nasional sangat besar, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan daging ayam dan telur yang setara kebutuhan beras sebagai bahan pangan pokok rakyat Indonesia. Dalam era perdagangan bebas dan sejak jadi anggota WTO, Indonesia perlu mengadopsi kebijakan pangan lebih canggih. Jika masih ingin membuat program swa sembada maka harus bisa mengukur diri dan jujur pada rakyatnya. Program swa sembada kedelai dan sapi dalam periode lima tahun kedepan adalah hal yang sulit kalau tidak dikatakan hampir mustahil. Akan lebih bermanfaat jika pemerintah bisa mencanangkan swasembada daging dan protein hewani untuk kecukupan gizi seluruh rakyat Indonesia.

Melalui program swasembada daging untuk peningkatan gizi rakyat akan terserap kelebihan produksi ayam segar dan beku, produksi ayam bisa meningkat dan harga terjaga. Program ini bisa memacu Kementrian Kominfo kampanye makan telur dan daging ayam. Kementrian Perindustrian dilibatkan agar pengusaha pangan olahan menggunakan bahan baku telur dan ayam domestik. Kementrian Perdagangan dan Pemerintah Daerah juga bisa diminta untuk membangun pasar khusus ayam segar dan jalur rantai dingin. Kementrian Pendidikan juga bisa dilibatkan agar anak anak diberi makanan tambahan telur di sekolah. BULOG juga bisa diminta untuk menyalurkan telur untuk rakyat dan orang miskin.

Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah akan mendukung karena program ini akan mengurangi kesenjangan, menurunkan jumlah orang miskin, mengurangi malnutrisi ibu hamil dan anak, meningkatkan lapangan kerja sekaligus meningkatkan ketahanan pangan. Program swasembada daging dan kampanye makan telur ini juga bisa dicanangkan serentak berskala nasional oleh Presiden Joko Widodo karena efek bergandanya sangat luar biasa. Hal ini juga sejalan dengan kedaulatan pangan untuk masa depan manusia Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.

* Dr. Ir. RACHMAT PAMBUDY, MS
*) Peternak dan Kepala Bagian Bisnis dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Menejemen Institut Pertanian Bogor.
*) Anggota Dewan Pembina Pinsar Indonesia