Edy Wahyudin terima cindera mata

Edy Wahyudin terima cindera mata

Bertempat di gedung Menara 165 Jakarta Selatan, Rabu, 18 Nopember 2015, Wakil Ketua Umum Pinsar Indonesia Edy Wahyuddin tampil sebagai pembicara di seminar Nasional Bisnis Peternakan . Seminar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) ini dihadiri oleh kalangan dunia usaha perunggasan dan peternakan pada umumnya dari berbagai daerah. Seminar mengambil tema tentang kemandirian dan daya saing peternakan untuk mencerdaskan anak bangsa.

Selain Edy, pembicara lainnya adalah Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno, Dirut Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro, Ketua Umum GPPU Krissantono, Ketua Umum GPMT Sudirman, Sekjen PPSKI Rochadi Tawaf, Ketua Umum AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia ) Sauland Sinaga dan Ketua Umum ASOHI Irawati Fari.

Dalam kesempatan ini Edy yang tampil mewakili Ketua Umum Singgih Januratmoko menguraikan perkembangan harga ayam dan telur sepanjang tahun 2015 dan prediksi tahun 2016. Edy mengatakan, selama bertahun-tahun Pinsar telah menghimpun harga ayam dan telur dari puluhan kota di Indonesia yang sangat bermanfaat bagi para peternak unggas di seluruh Indonesia.

“Saat ini masyarakat sudah dapat mengakses perkembangan harga ayam dan telur tiap hari di www.pinsarindonesia.com dan bisa menggunakan aplikasi android sehingga sangat memudahkan dalam mengakses perkembagan harga maupun informasi lainnya,” kata Edy.

“Tinggal masuk ke playstore dan ketik Pinsar Indonesia, maka kita dapat menginstall aplikasi Pinsar Indonesia di handphone android” tambahnya.

Edy menguraikan, tahun 2015 bisnis perunggasan diwarnai dengan gejolak harga akibat fenomena over supply DOC broiler. Masalah kelangkaan jagung, cuaca, bencana asap, ikut mewarnai bisnis perunggasan.

Dari permasalahan yang ada ini, bisa diambil pelajaran bahwa pelaku bisnis perunggasan ke depan perlu lebih encermati data prediksi cuaca dari BMKG. “Selama ini peternak kurang mempedulikannya,” ujar Edy.

Sementara itu dari paparan pembicara lainnya disebutkan bahwa tahun ini produksi DOC broiler diperkirakan 2,5 miliar ekor, sedangkan produksi pakan 16,2 juta ton. Angka ini lebih rendah dari prediksi yang disampaikan pada seminar tahun lalu yaitu produksi DOC broiler 3 miiar dan produksi pakan 16,8 juta ton. Akibat dari koreksi ini maka, market obat hewan ikut terpengaruh yakni menjadi Rp 3,9 triliun, dimana tahun lalu diprediksi Rp 4 Triliun.

Ketua Umum ASOHI memperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2016 diperkirakan 4,5% maka perkembangan market obat hewan diperkirakan akan tumbuh 7-10%.***