IMG-20170725-WA0060 (2)

Dari kiri : Seaedi Sunanto, Ni Made Ria, Shabbir, Desianto

Bertempat di Hotel Santika TMII, Pinsar Indonesia didukung oleh Elanco Animal Health Indonesia sukses menyelenggarakan seminar teknis yang membahas Antimikrobial dalam Industri Peternakan. Seminar diikuti oleh lebih dari 100 peserta dari kalangan peternak anggota Pinsar serta sejumlah pelaku usaha feemill, breeding dan obat hewan. hadir juga sejumlah tokoh organisasi perunggasan antara lainn Ketua Umum GPPU Krissantono, Direktur eksekutif GPMT Drh Askam, Ketua Umum ASOHI Drh Irawati, Sekretaris Dewan peternak Rakyat Sugeng Wahyudi, Kadma Wijaya (PPUN), Ketua PPUN Dudung Rakhmat, pembina Pinsar Drh Hartono, Mantan Ketua PPUN Sigit Prabowo, Pengurus ADHPI Hadi Wibowo dan sebagainya.

IMG-20170725-WA0066Seminar yang dibuka oleh Ketua Umum Pinsar Indonesia Singgih Januratmoko itu menghadirkan pembicara drh. Ni Made Ria Isriyanti, Ph.D (Kasubdit Pengawasan Obat Hewan, Ditjen PKH), Dr. Shabbir Simjee, Ph.D (Global Scientist on Antimicrobial) dan drh. Desianto B. Utomo, M.Sc, PhD (Ketua Umum GPMT). Pimpinan Elanco Indonesia Suaedi Sunanto bertindak sebagai moderator seminar.
Ni Made Ria sebagai pembicara pertama menyampaikan materi regulasi obat hewan khususnya mengenai pelarangan penggunaan AGP dalam pakan,  Ia menyatakan, berdasarkan Permentan no 14/2007 tentang klasifikasi obat hewan, pelarangan AGP akan efektif berlaku mulai Januari 2018.  Namun ia menegaskan bahwa yang dilarang itu atibiotika sebagai imbuhan pakan yang juga dikenal sebagai Antibiotic Growth Promoter (AGP).
“Jadi antibiotik untuk pengobatan ternak diperbolehkan,” tegas Ria.
Menanggapi pertanyaan peserta, Ria juga menegaskan bahwa antikoksi tidak termasuk yang dilarang penggunaannya. “Antikoksi tetap boleh digunakan.” jelas Ria.
IMG_20170725_162254

Foto bersama peserta dan pembicara seminar

Adapun alasan pelarangan itu, Ria yang hadir mewakili Dirkeswan Dr Fajar Sumping Tjaturrasa menjelaskan bahwa pelarangan ini adalah amanat UU no 18/2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan. Pada pasal 22 ayat 4 c secara tegas dinyatakan “setiap orang dilarang menggunakan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan”.
“Permentan no 14/2017 itu merupakan pelaksanaan dari pasal 22 UU no 18/2009,” jelas Ria.
Perbaikan Manajemen
Shabbir Simjee yang tampil sebagai pembicara kedua menyampaikan informasi perkembangan pelarangan AGP di berbagai negara. Ia antara lain menyampaikan bagaimana pelarangan AGP yang dimulai akhir 1990an di Eropa. Pelarangan ini dimonitor secara berkala oleh pemerintah dan belakangan diketahui bahwa dampak pelarangan AGP menyebabkan penggunaan antibiotika sebagai terapi mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini menjadi bahan diskusi hangat di negara Eropa.
Hal senada juga disampaikan Desianto. Ia mengatakan, di kala Eropa sedang mengevaluasi dan akan mengoreksi pelarangan AGP, justru Indonesia mulai mengikuti pelarangan AGP. Namun hal ini sudah menjadi keputusan karena pemerintah tugasnya menjalankan UU.
Oleh karena itu yang penting sekarang adalah bagaimana menghadapi permentan ini secara bijak.
“Dengan adanya pelarangan ini, langkah utama yang harus dilakukan peternak adalah melakukan perbaikan manajemen. Salah satunya, biosecurity harus dijalankan secara ketat dan konsisten,” ujar Desianto.
Ketua Umum GPMT ini juga mengatakan bahwa Kandang Closed House bisa sebagai alternatif penerapan perbaikan manajemen, namun hal ini hanya bisa dilakukan oleh peternak skala tertentu. Jadi mau closed house maupun opened house, yang penting biosecurity dijalankan dengan baik.
Adapun mengenai pengganti AGP, Desianto menguraikan, enzim,  asam organik, probiotik, prebiotik, phitogenik  bisa menggantikan AGP namun tidak mampu mengganti 100%. “Maksimal hanya menggantikan 61% dari  kinerja AGP. selain itu dari segi harga, jelas AGP yang lebih ekonomis,” ujarnya.
Untuk itu sekali lagi manajemen pemeliharaan ayam yang harus dijalankan lebih ketat lagi oleh peternak, tegas Desianto.
Seminar Roadshow
Pengurus Pinsar Ricky Bangsaratoe mengatakan seminar ini rencananya akan dilanjutkan dalam bentuk roadshow seminar di Solo, Surabaya, Medan dan kota lain. Menurutnya, melihat antusiasme peserta, tampak bahwa informasi mengenai pelarangan AGP dan dampaknya bagi peternak unggas harus disosialisasikan segera kepada para peternak, agar mereka lebih siap menghadapi perubahan ini.
( Bams)***