ayamAda nuansa yang agak berbeda pada pasar broiler dan telur di bulan Ramadhan ini. Tekad pemerintah pusat yang sangat kuat untuk mengontrol kenaikan harga broiler dan telur nampaknya terlihat sangat berhasil. Atas nama pengendalian ekonomi makro, untuk menjaga inflasi, maka berbagai kebutuhan pokok yang dominan mengalami kenaikan saat-saat menjelang Ramadhan, dikontrol ketat agar kenaikan masih dalam koridor terjaga.

Catatan penulis, menjelang puasa yang sering dikenal dengan masa munggahan, kenaikan harga broiler hidup ex farm hingga daging ayam di tingkat pengecer sangat terkendali, tidak lebih dari Rp 22.000 per kg (live brird) dan Rp 35.000 per kg (daging ayam). Demikian pula harga telur ayam ras, kenaikan tidak melewati angka Rp 20.000 per kg(ex farm) dan tidak melebihi Rp 23.000 di tingkat eceran.

Dalam perpektif jangka panjang, kita patut memberi apresiasi yang tinggi untuk rezim ini. Ekonomi yang terjaga inflasinya dalam jangka panjang memberi sinyal bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi mampu mengendalikan laju ekonomi nasional secara baik. Meskipun dari sisi jangka pendek, bagi peternak broiler dan layer, tentu sedikit ada kekecewaan. Pasalnya keuntungan yang diraih dalam beberapa momen yang setahun sekali terjadi ini, tidak mampu merecovery kerugian yang sudah berbilang tahun ini. Sehingga mau tidak mau, peternak harus berkorban dengan kesabaran, tentunya dengan harapan, control harga”baik” ini akan berlangsung lama dan suasana bisnis unggas terus berlangsung kondusif.

Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah, seberapa besar peluang situasi ini akan terkontrol dengan baik. Mengingat potensi oversuplai produksi DOC broiler yang menjadi biang masalah jatuhnya harga broiler dan telur tiga tahun terakhir, masih sangat besar. Instrumen Permentan No. 61 Tahun 2016 yang dikantongi pemerintah sebagai dasar dilakukannya control produksi DOC broiler, secara strategis belum efektif mengatasi persoalan ini dalam jangka panjang. Artinya,control produksi DOC broiler selama ini dengan cutting telur HE hanya mengatasi problem singkat saja.

Bahkan cara ini diduga menyimpan persoalan lebih besar, karena yang dilakukan sesungguhnya adalah bukan cutting, tetapi hanya penundaan penetasan. Dengan begitu akumulasi telur tetas tertunda, kelak jika ditetaskan secara bersama, berpotensi terjadi over suplai DOC broiler secara besar-besaran diperkirakan sebesar 40 persen dari total produksi 63 juta ekor per minggu. Dampak lain kemungkinan terbesar adalah jatuhnya harga telur komersil, akibat membanjirnya telur tetas di pasaran. Dan ini menjadi dampak yang sangat merugikan peternak layer.

Saat memasuki bulan puasa, harga broiler hidup dan telur ayam ras ex farm khususnya di wilayah Jabodetabek tercatat mulai mengalami penurunan. Harga broiler hidup ukuran 1,6-1,8 kg yang sebelumnya Rp 19.000-20.000 per kg kini mulai melemah di kisaran Rp. 17.000-18.000 per kg. Sementara telur yang sebelumnya di kisaran Rp. 20.000 per kg turun menjadi Rp. 18.000 per kg. 

Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya penurunan, namun berdasarkan laporan yang masuk harga broiler turun diduga seiring masuknya bulan puasa, permintaan broiler melemah. Dugaan ini terkonfirmasi setelah tidak adanya laporan membludaknya ayam ukuran besar diatas 2 kg. Untuk telur, berdasarkan laporan yang diterima penulis, tidak ada penurunan permintaan, bahkan permintaan telur di tingkat konsumen cenderung meningkat. Tetapi informasi banyaknya stok telur agen besar di Jakarta menunjukkan mulai masuknya telur tetas yang mengganggu serapan telur dari peternak layer.

Problem dengan pola seperti ini sudah teramat sering terjadi, laksana lingkaran setan yang tampak sulit terputus mata rantainya. Meskipun sesungguhnya jika instrumen permentan no. 61 tahun 2016 implementasinya dengan melakukan afkir dini Parents Stock (PS) akan lebih efektif dalam jangka waktu yang lebih panjang efeknya. Namun pilihan yang dilakukan pemerintah adalah dengan cutting telur HE yang hanya berdampak sesaat.  Bagi peternak broiler dan layer, maka menyimpan harapan dengan kesabaran menjadi langkah yang bijaksana, di tengah tekanan pemerintah oleh peternak rakyat/mandiri dan resistensi breeder yang menanggung resiko lebih besar jika afkir dini dilakukan. HADI