Oleh Bambang Suharno

Munas Pinsar Indonesia telah sukses berlangsung di Hotel Grand Zuri, BSD City Tangerang tanggal 20 September 2019 yang dilanjutkan dengan Seminar Nasional Sabtu 21 September 2019. Munas berjalan sukses karena telah menetapkan Ketua Umum Pinsar Singgih Januratmoko dan Ketua Dewan Pembina Hartono secara aklamasi, tanpa melalui pemungutan suara. Dalam acara Munas juga dilakukan sidang komisi sesuai topik antara lain masalah peternakan broiler, layer dan unggas lokal.

Ketua Umum bersama formatur langsung dapat menyusun susunan pengurus dalam waktu beberapa jam saja, sehingga hari berikutnya sebelum seminar berlangsung, Ketua Umum terpilih melantik susunan “kabinet” untuk periode 2019-2024.

Dalam susunan pengurus ini juga tampak beberapa hal menarik. Misalkan ada jabatan Ketua Harian yang dipegang oleh mantan wakil Ketua Umum Eddy Wahyudin. Jabatan ini sangat cocok mengingat Singgih Januratmoko saat ini resmi menduduki posisi baru yaitu sebagai anggota DPR RI 2019-2024 dari Fraksi Golkar.

Jabatan Singgih sebagai anggota DPR tentunya membuat posisi Pinsar semakin kuat sebagai asosiasi peternak yang usianya akan menginjak 30 tahun pada tahun 2020 yang akan datang. Kesibukan Singgih sebagai anggota DPR perlu didukung oleh pengurus yang kuat, sehingga adanya Ketua Harian menjadi solusi terbaik.

Pada Munas kali ini ada 2 ketua bidang baru yang belum ada di susunan periode sebelumnya, yaitu Ketua Bidang Aneka Unggas yang dijabat oleh Naryanto, seorang pelaku usaha pembibitan unggas lokal yang cukup dikenal, selain itu ada Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) yang dijabat oleh Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA, mantan Ketua Umum ASOHI. Semasa menjadi Ketua Umum ASOHI, Rakhmat banyak melakukan kerjasama dengan Pinsar dan ikut menggagas Festival Ayam dan telur dan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).

Dengan penyempurnaan struktur organisasi, tampak bahwa Pinsar Indonesia yang selama ini dikenal lebih banyak mengurusi masalah broiler dan layer, kini Pinsar tampak makin memposisikan diri sebagai organisasi “unggas secara keseluruhan” termasuk unggas lokal, dan juga peduli terhadap masalah hilir, dengan adanya Bidang Kesmavet.
Ketua Harian terpilih Eddy Wahyudin mengatakan, bidang Kesmavet nantinya mengurusi masalah pasca panen unggas dengan jaminan ASUH (Aman Sehat Utuh Halal). hal ini sekaligus mendukung program Pinsar dalam rangka kampanye ayam dan telur.

BACA JUGA  Jagung Impor Mulai Bisa Masuk ke Indonesia

Di jajaran Dewan pembina yang dipimpin oleh Hartono (Ketua Umum Pinsar ke2 setelah Karyoto), terdapat nama-nama para tokoh perunggasan yang sangat dikenal publik peternakan, antara lain Dr. Rakhmat Pambudy, Prof, Muladno (Mantan Dirjen PKH), Tri Hardiyanto (mantan Ketua GOPAN), Sigit Prabowo (Ketua Harian GOPAN), Ade M Zulkarnaen (Himpuli).


Munculnya nama-nama ini menunjukkan bahwa Pinsar bukanlah musuh bagi pihak manapun, organisasi ini merangkul semua elemen perunggasan untuk bersama-sama membangun perunggasan.

Koperasi Pinsar Unggas Sejahtera

Langkah baru lain yang dilakukan pinsar adalah meluncurkan Koperasi Pinsar Unggas Sejahtera. Wacana koperasi peternak unggas sebagai solusi mengatasi masalah pemasaran dan pasca panen telah lama menjadi bahan diskusi, namun belum ada realisasinya. Di sini tampak Pinsar melakukan langkah merealisasikan ide Koperasi peternak unggas dengan nama Koperasi Pinsar Unggas Sejahtera.

Menurut catatan penulis, pada tahun 1980an Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI) mendirikan Koperasi Produksi Peternakan Unggas Jakarta (KPPUJ), namun koperasi ini tidak dapat berkembang sesuai harapan. Kementerian Koperasi juga pernah menginisiasi koperasi peternak unggas sewaktu Teguh Boediono menjabat Direktur Koperasi Peternakan. Gagasan ini juga kurang berkembang dengan baik.
Kita harapkan koperasi yang digagas Pinsar dapat menjadi salah satu solusi mengatasi masalah pemasaran perunggasan, khususnya yang sering dikeluhkan peternak tentang harga di konsumen yang stabil tinggi sedangkan di peternak harga jatuh bangun hingga banyak memakan korban peternak jatuh.

Koperasi ini mengawali kegiatannya dengan Koperasi Akurat (Akar Usaha Rakyat Terpadu) untuk memasarkan produk peternak

Hadirnya Maruf Amin dan Berlian Hutauruk


Sebagaimana Munas V tahun 2014, salah satu agenda penting adalah seminar nasional perunggasan. Kali ini seminar mengangkat tema Membangkitkan Kembali Sejuta Peternak UMKM di era Milenial. Seminar yang dipandu oleh pakar sosiologi pedesaan IPB Dr Sofyan Syaf, menghadirkan narasumber Prof. Muladno (mantan Dirjen PKH) dan KH Akhmad Syauqi yang merupakan pengasuh sebuah Pondok Pesantren, dan juga putra dari KH Ma’ruf Amin.

BACA JUGA  Harga Protein Telur Lebih Murah dibanding Protein Tempe

Seminar ini menjadi sangat istimewa dengan hadirnya Wapres 2019-2024 Prof Dr KH Mar’uf Amin memberi sambutan sebelum seminar dimulai. Sambutan dan pesan Maruf menjadi begitu penting karena Ia adalah orang penting di negeri ini.
Dalam sambutannya, Ma’ruf Amin berpendapat para peternak unggas Indonesia sudah memahami teknik peternakan secara baik. Selain itu secara kultural mereka pekerja keras, ulet dan disiplin. Artinya etos kerjanya baik. Yang perlu diperkuat adalah pola kerjasama antar para peternak. Kerjasama yang diharapkan dalam bentuk koperasi yang dikelola dengan baik.
Ma’ruf mengatakan di negara maju seperti Eropa, koperasi mampu menjadi bisnis kelas dunia. Hal ini harus diupayakan oleh peternak di Indonesia.

Terhadap tantangan di masa depan antara lain kekalahan Indonesia di WTO, Ma’ruf berpendapat ini adalah PR pemerintah dan semua stakeholder. Kita semua perlu berkontribusi untuk mengatasi tantangan ini. Beberapa langkah misalkan menggalang sentimen masyarakat agar mengonsumsi daging ayam lokal yang lebih fresh dan jaminan halal.
Di akhir sambutan, Ma’ruf berpesan agar kita semua optimis dalam menghadapi berbagai tantangan. “Tetaplah optimis dalam menghadapi berbagai macam tantangan. carilah solusinya melalui seminar ini,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar hasil seminar ini tidak hanya bagus dalam pemikiran, tapi dapat ditindaklanjuti sehingga memberi nilai tambah bagi perunggasan nasional.
Hal menarik lainnya adalah tampilnya penyanyi senior Berlian Hutahuruk menyanyikan lagu yang melegenda “Badai Pasti Berlalu”. Lagu ini menjadi penyemangat bagi peserta seminar yang sebagian besar peternak, yang tengah dirundung musibah harga jatuh berkepanjangan.

Rekomendasi Munas

Munas bukan hanya menetapkan Ketua Umum dan menyusun kepengurusan, namun juga membahas penyempurnaan AR ART menyusun program kerja, sebagai ajang tukar pendapat dan informasi serta penyusunan rekomendasi Munas.
Forum lima tahunan ini bagi pengurus Pinsar Daerah merupakan forum yang sangat penting untuk menyampakan banyak masalah di berbagai daerah yang luput dari pemberitaan. Contohnya seorang pengurus Pinsar di Sumatera melaporkan bahwa kandang ayamnya mendapat pungutan hingga ratusan juta agar mendapat izin mengambil air dari dalam bumi untuk ternak ayamnya. Tidak jelas apa aturannya sehingga polisi harus mempermasalahkan keberadaan peternakan ayam yang harus mengambil air di bawah tanah.

BACA JUGA  Audiensi Panitia HATN 2017 dengan Lombok Post

Ada juga peternak yang diperiksa gara-gara timbangan ternaknya belum di tera di lembaga remsi. Sebagian dipanggil satgas pangan ketika harga ayam sedang bagus melampaui harga acuan pemerintah, namun ketika harga jatuh berbulan-bulan mereka tidak peduli sama sekali. Sebaliknya ada juga Pinsar Daerah yang justru bekerjasama dengan satgas pangan dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Dalam sidang komisi, peserta dibagi menjadi 3 komisi yang masing-masing membahas masalah ayam broiler, ayam petelur dan aneka unggas.
Dari komisi ayam broler antara lain merekomendasikan agar segera pemerintah membuat regulasi pemisahan pasar yaitu Pasar Modern untuk integrator dan Pasar Tradisional untuk peternak UMKM. Adapun terhadap distribusi DOC broiler, komisiini mengharapkan 50 persen untuk perusahaan integrasi dan afiliasinya, dan 50 persen untuk peternak UMKM.

Rekomendasi dari komisi ayam petelur antara lain adalah porsi untuk budidaya layer untuk integrasi sesuai Permentan 32 Tahun 2017 harus tetap 2 persen. Komisi ini ini juga meminta agar pemerintah melarang alih fungsi farm closed house broiler milik perusahaan integrasi dan afiliasinya menjadi farm layer.

Tampaknya Munas V kali ini Pinsar Indonesia telah menunjukkan diri sebagai asosiasi yang makin kompak, makin profesional dan berdedikasi untuk kemajuan perunggasan nasional. Sebagaimana lagu yang dinyanyikan Berlian Hutauruk, semoga badai perunggasan segera berlalu, dan secercah harapan tampak di depan sana.

Selamat dan sukses untuk Pinsar Indonesia.***

*)Penulis adalah Pemimpin Umum Majalah Infovet, Pengamat Peternakan