ayamTelur(21/6/2016) Pekan ketiga bulan Juni 2016 ini menjadi pekan kedua masa puasa di Ramadhan 1437 H ini. Ada fenomena  yang menarik bulan puasa tahun ini dibanding bulan puasa di tahun-tahun sebelumnya. Fenomena itu adalah, harga broiler hidup dan telur ayam ras pada pekan pertama puasa relatif stabil atau bertahan di posisi sebelum masuk masa puasa. Harga dua komoditas unggas itu mulai menurun pada pekan kedua masa puasa. Apa sesungguhnya yang terjadi ?  Padahal kita tahu dari berbagai media, pemerintah begitu gencar berupaya menurunkan harga komoditas pangan saat bulan puasa dan lebaran nanti.

Menurut catatan Pinsar, harga telur di pasar Jabotabek mulai menurun awal pekan lalu (13/6) Rp 18000/kg dari sebelumnya  Rp 20300/kg (11/6) dan berlanjut menjadi Rp 17500/kg (15/6). Situasi ini dipicu anjloknya harga telur di sentra produksi Blitar yag mengalami penurunan sebesar Rp 2000/kg menjadi Rp 16300/kg (13/6) dan berlanjut menjadi Rp 15000/kg (14/6). Kejadian singkat yang cukup membuat peternak layer shock ini diduga karena mulai masuknya telur tetas asal breeder broiler ke pasar telur komersil. Pasalnya penurunan harga telur ini langsung menembus di bawah Biaya Pokok Produksi  (BPP) telur. Ini menunjukan telur tetas yang masuk ke pasar komersil langsung diterima oleh Bandar telur besar khususnya di pasar Jabodetabek. Seperti kita tahu, tiga pekan sebelum lebaran, breeder mulai mengurangi penetasan telur menjadi DOC broiler. Hal ini karena sangat sedikit farm-farm broiler melakukan chick in saat lebaran.

Faktor lain yang patut diduga turut menyebabkan harga telur menurun adalah, mulai gencarnya pemerintah menyelenggarakan pasar murah, yang tentu saja salah satu komoditas yang dijajakan adalah telur ayam ras. Apalagi dengan peliputan media yang semakin intens.  Hal ini tentu turut mempengaruhi psikologis pasar dalam membentuk harga jual. Untuk pekan ini, harga telur berpeluang cukup besar mengalami kenaikan. Dua pekan sisa Ramadhan, konsumsi telur oleh masyarakat cenderung akan meningkat. Beberapa tradisi malam likuran atau qunutan di beberapa daerah di Nusantara  biasanya akan mendorong kenaikan konsumsi telur tersebut.

Untuk pasar broiler, penurunan harga mulai nampak di medio pekan ketiga bulan Juni ini. Di pasar Jabodetabek, broiler hidup diperdagangkan pada harga Rp 18000/kg (16/6), setelah turun dari sebelumnya Rp 19200/kg (15/6). Ada dua hal yang diduga menyebabkan penurunan harga broiler hidup ini, pertama; dari sisi permintaan, sepertinya terjadi penurunan. Beberapa laporan yang mask ke Pinsar pelaku pasar mengabarkan pasar broiler sepi permintaan. Puasa yang bersamaan dengan masa pendaftaran anak sekolah ini sepertinya cukup membuat masyarakat menjaga pengeluarannya. Dari sisi suplai, sepertinya terjadi peningkatan, khususnya ayam beku yang selama ini memenuhi cold storage produsen daging ayam. Banyaknya kegiatan pasar murah oleh pemerintah menjadi media yang cukup pas untuk mengeluarkan stok ayam beku tersebut. HADI