demo peternak 30 maret

Rombongan peternak ayam dari Malang

Kamis 30 Maret 2017 lalu Ribuan peternak ayam broiler dan petelur menggelar aksi demo di depan Istana Merdeka. Mereka menuntut pemerintah segera turun tangan membantu peternak memulihkan harga ayam dan telur yang terpuruk sejak tahun 2013.

Koordinator Sekretariat Bersama Aksi Penyelamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PPRPN) Sugeng Wahyudi,  mengatakan anjloknya harga ayam dan telur terjadi karena kelebihan pasokan di pasar, sehingga membuat harganya turun di bawah harga pokok produksi (HPP).

Di sentra petelur seperti Blitar harga telur di tingkat peternak hanya 12.000/kg, padahal HPP sekiar 17.000/kg. hal yang sama juga terjadi di peternak ayam broiler. Jatuhnya harga yang berlangsung sangat lama ini membuat banyak peternak terpaksa menjual asetnya demi kelangsungan hidup usahanya. Bahkan tak sedikit yang terpaksa menghentikan usahanya.

“Jika kondisi terpuruk ini terus berlanjut, bisa dipastikan peternak unggas rakyat yang merupakan aset bangsa dalam memproduksi pangan protein hewani yang terjangkau akan hilang dari Indonesia, akibat usaha peternak unggas rakyat bangkrut,” kata Sugeng sebagaimana dikutip Infovet .

Dalam aksi ini, sedikitnya 3.500 peternak ayam baik pedaging maupun petelur memadati lokasi yang dijadikan tempat aksi. Ribuan peternak ini berasal dari berbagai wilayah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten. Sebagian lagi datang dari Kalimantan Selatan, Lampung, dan Sumatera Selatan. Mereka tiba di Lapangan IRTI Monas pada pukul 08.00 WIB.

Selain berdemo di depan Istana Merdeka, ribuan peternak ini akan berjalan kaki ke Kantor Kementerian Perekonomian di Lapangan Banteng, Kantor Kementerian Perdagangan di Tugu Tani, dan kemudian melanjutkan dengan menumpang bus untuk berdemo di Kementerian Pertanian di Ragunan, Jakarta Selatan sampai sore hari.

Empat Tuntutan Peternak

Demo peternak di Istana 1

Demo ini membawa 4 tuntutan yakni hentikan integritor, hentikan peredaran telur tunas di pasaran, sediakan jagung dengan harga murah dan stok cukup serta berlakukan larangan import tepung telur, sehingga pengusaha kue bisa membeli telur fresh dari para peternak.

Menurut Sukarman, salah seorang peternak , saat ini, harga telur di tingkat peternak masih dikisaran Rp 14.200/kg. Sementara berdasarkan hitungan matematis, peternak bisa mendapat keuntungan jika harga telur sama dengan 3,5 kali harga pakan.

“Jadi kalau diambil rata-rata harga pakan Rp 5 ribu/kg, peternak baru untung jika harga telur Rp 17.500/kg,” tuturnya kepada wartawan.

Kerugian Rp 3.300/kg ini harus ditanggung peternak sejak Desember 2016, hingga banyak dari peternak yang harus menggadaikan harta benda mereka.

“Ini sudah banyak yang sertifikat rumah, tanah dan kandangnya yang masuk pegadaian dan bank. Buat nambah kredit modal biar mampu bertahan. Tapi kalau kondisi seperti ini belum berubah, bulan depan peternak sudah tidak bisa bayar cicilan, sekarat semua,” tambah Rofi Yasifun, peternak ayam petelur.

Sebelumnya, pada 8 Maret 2016 lalu Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN) diundang Kementan di Jakarta untuk forum grup diskusi membahas revisi Permentan No 61 tahun 2016. Saat itu disepakati bahwa pembagian DOC (Day Old Chick: bibit ayam petelur) untuk layer yang keluar dari breding farm integrated. Peternak minta DOC 2% untuk internal integrated test farm, dan 98% untuk peternak rakyat atau UMKM koperasi. Namun sampai saat ini, ternyata aturan itu belum ditandatangani Kementan.***