Gejolak harga ayam masih menjadi masalah utama para peternak ayam. Terjadi berulang kali dan terasa semakin berat bagi peternak skala kecil.

TAHUN 2014 lalu, industri perunggasan nasional “diusik” oleh berbagai kejadian aksi demonstrasi peternak rakyat di berbagai tempat. Unjuk rasa dipicu oleh jatuhnya harga broiler hidup yang berlangsung hampir sepanjang tahun. Sayangnya, belum ada solusi jitu mengatasi masalah ini.
Gejolak jatuh bangunnya harga ayam broiler terjadi berulang kali sejak puluhan tahun lalu. Tampaknya gejolak ini semakin membesar, seperti lingkaran siput. Dan tahun 2014 menjadi catatan terburuk pasar broiler nasional. Harga broiler yang sempat jatuh di harga Rp 8000/kg, sudah banyak menimbulkan kerugian besar peternak mandiri/rakyat.

Maka memasuki tahun 2015, menjadi tahun harapan baru bagi peternak rakyat, iklim pasar broiler diimpikan akan kondusif untuk memulihkan usaha mereka dari sengkarut hutang peninggalan masa sebelumnya. Namun apakah fakta menunjukan, over suplai yang menjadi biang persoalan rusaknya harga sudah menghilang ?

 

Sejak Januari hingga September 2015, performa harga broiler belum menunjukkan catatan yang menggembirakan. Di beberapa pekan, harga broiler masih bergerak di bawah Harga Pokok Produksi (HPP) nya. Di awal tahun 2015 memang harga broiler hidup berada di kisaran Rp 19000/kg dan berada di atas HPPnya. Akan tetapi memasuki bulan Februari 2015 hingga Juni 2015, harga broiler terus dalam tekanan berat. Dari berbagai pelaku pasar tercatat dominan tekanan harga broiler disebabkan faktor pasok ayam yang cukup melimpah.

Saat itu beberapa sumber masih juga menunjukkan produksi DOC broiler masih sebesar 60 juta ekor per minggu, masih jauh dari kemampuan daya serap yang hanya sebesar 40 juta ekor per minggu. Berbagai upaya pemangkasan produksi dengan aborsi yang dilakukan pembibit hanya sedikit berdampak mengurangi tekanan harga broiler. Kondisi sedikit membaik memasuki bulan Juli 2015, tepatnya menjelang Hari Raya Idul Fitri 1436 H hingga Agustus 2015. Akan tetapi kembali memburuk memasuki bulan September 2015.

Peternak broiler memang masih dihantui over suplai. Potensi produksi bibit broiler yang masih tinggi, sulit membatasinya setiap saat untuk tidak kebobolan beredar di pasar. Perlu upaya ekstra untuk mendorong pemerintah sebagai regulator dalam membatasi DOC broiler yang beredar. Agar hingga akhir tahun ini peternak tetap terjaga dari kerugian di setiap periode produksinya. Belum lagi peternak juga harus berkutat dengan hal teknis untuk menjaga indeks prestasi produksi tetap baik, di tengah dampak El nino di musim kemarau ini.

Disusun Oleh Samhadi, pada September 2015, dimuat di Infovet edisi Ildex, Oktober 2015