Eddy Wahyudin (no 2 dari kanan, pegang mic) bersama narasumber lain

Pinsar Indonesia mendukung langkah pemerintah dalam menstabilkan harga kebutuhan bahan pokok khususnya ayam dan telur. Hal ini dikemukakan oleh Wakil Ketua Pinsar Indonesia Eddy Wahyudin dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Jalan Media Communication di The Bellevue Suites Hotel, Pondok Indah Jakarta, Rabu 28 November 2018 lalu.

Acara FGD (Focus Group Discussion) tersebut mengangkat tema “Dampak Kenaikan Harga Pakan Ternak Terhadap Fluktuasi Harga Telur” menghadirkan narasumber dari Kemendag, Kementan Satgas Pangan serta Eddy Wahyudin selaku wakil dari Pinsar Indonesia.

Menunut Eddy, dalam situasi seperti sekarang ini, diprediksi pasokan telur menjelang Natal dan tahun baru masih cukup aman dan tidak menimbulkan gejolak harga yang tinggi di konsumen. “Pinsar selalu siap untuk mendiskusikan dan memberi masukan untuk upaya perbaikan usaha perunggasan,” ujarnya.

Muhajir Ali selaku menyelenggara acara mengatakan acara ini dilatarbelakangi oleh kebijakan Pemerintah yang mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) NO. 58 Tahun 2018 Tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian Di Petani Dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Kebijakan tersebut guna mengatasi fluktuasi harga telur di pasar nasional.

Kebijakan tersebut tak membuat kondisi menjadi stabil. Sejumlah asosiasi peternak di Indonesia mengeluhkan dengan bahan dasar pakan, yakni jagung yang mengalami kelangkaan. Kelangkaan itu membuat harga jagung di pasaran menjadi naik. Hal iniĀ  membuat peternak unggas malah kesulitan lantaran adanya ketidak seimbangan antara harga acuan yang ditetapkan pemerintah tidak seimbang dengan biaya produksi.

Sementara itu, Kementerian Pertanian menegaskan produksi jagung nasional tetap berada pada posisi surplus tahun ini. Pernyataan tersebut sekaligus membantah kabar mengenai kurangnya produksi jagung di balik keputusan impor jagung sebanyak 100 ribu ton yang dilakukan pemerintah untuk sektor peternakan. Surplus tersebut, Kementan bahkan menyebut Indonesia bisa mengekspor jagung ke Filipina dan Malaysia sebanyak 372.990 ton. Dengan produksi yang tinggi, Kementerian Pertanian menduga kenaikan harga jagung lebih disebabkan oleh masalah distribusi.